Sebuah Refleksi terhadap Keselamatan hanya oleh Anugerah

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
Efesus 2:8-10
Berbicara tentang “Keselamatan”, maka kita bukan berbicara tentang hal sepele lagi. Ngomongin keselamatan berarti ngomongin tentang “kalau sudah meninggal kita check-in di Sorga, atau di Neraka?”. Artikel kali ini mau mengajak kita untuk merefleksikan keselamatan di dalam iman Kristen. Ya, keselamatan hanya oleh karena Anugerah. Apakah pasti? Mengapa? Bagaimana bisa? yuk, cekidot~
Kita gak akan pernah bisa lepas konteks memahami “Sola Gratia” tanpa memahami pilar-pilar Reformasi lainnya. Pilar-pilar Reformasi ini dikenal dengan “The Five Solas” yang merupakan gagasan-gagasan dari Para Reformator, lho. Setiap pilar akan saling terkait antara satu dengan lainnya dan menopang konsep berpikir kaum Protestan terhadap iman Kristen. Sebelum memahami Sola-Sola lainnya perlu diawali dengan pemahaman tentang Sola Gratia terlebih dahulu, yaitu keselamatan hanya oleh anugerah saja.
Grace is when God gives us what we don’t deserve.
Mercy is when God doesn’t gives us what we do deserve.
-anon
Sebelum kita tahu artinya diselamatkan oleh anugerah, kita harus terlebih dahulu punya konsep yang sama tentang anugerah. Anugerah berbeda dengan pengampunan, tetapi keduanya saling terkait. Dimana ada pengampunan di situ ada anugerah dan sebaliknya. Dikatakan bahwa ‘anugerah adalah ketika Tuhan memberikan apa yang tidak layak kita terima, pengampunan adalah ketika Tuhan tidak memberikan apa yang seharusnya kita terima’. Karena kejatuhan di dalam dosa (cek kisah kejatuhan di Kejadian 3!), manusia menjadi musuh Allah. Dosa membuat manusia terpisah dari Allah yang Mahakudus, bahkan hati manusia cenderung memikirkan kejahatan.
Roma 7:21
Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.
Bahkan perbuatan sebaik apapun yang manusia lakukan, tanpa didasari akan pengetahuan dan pengenalan akan Allah di dalam Yesus Kristus adalah suatu kejijikan. Coba bayangkan kalian memiliki seorang musuh bebuyutan, suatu ketika musuhmu melakukan sebuah perbuatan baik kepadamu (membelikan kopi), apakah kalian tidak bertanya-tanya ataupun ragu menerima kebaikannya? Bisa jadi kopi itu diisi sesuatu yang mencelakakan, atau pasti si dia ada maunya. Gambaran ini memang kurang sempurna, tapi inilah keadaannya, manusia yang berdosa adalah seteru Allah (cek Roma 5:10), seteru berarti musuh bebuyutan. Bagaimana Allah yang Mahakudus bisa ‘menerima’ perbuatan baik dari manusia berdosa agar mereka diselamatkan? Allah bukan hanya Mahakudus dan Mahaadil, tetapi Ia juga Mahakasih, sehingga Ia tidak ingin manusia ciptaan-Nya binasa. Inilah kasih karunia/anugerah, kita seharusnya tidak layak untuk diselamatkan, tetapi Allah tetap mengusahakan keselamatan bagi manusia.
Maka Pribadi kedua dari Allah, yaitu Allah Putra rela mengambil rupa seorang manusia, mati dengan cara terkutuk (salib) untuk menggantikan manusia yang seharusnya menerima hukuman itu. Maka melalui kematian-Nya, setiap orang yang percaya bisa dibenarkan di hadapan Allah. Kematian Kristus di atas kayu salib adalah keindahan karya keselamatan bagi manusia sekaligus hal yang memuaskan murka Allah karena perbuatan dosa manusia. Tapi, jika demikian apakah keselamatan oleh karena anugerah ini sungguh dan pasti? Apakah manusia benar-benar secara pasif menerima keselamatan ini?
Surat Paulus kepada jemaat Efesus yang kita baca di awal tadi yang menjamin secara literal dan sangat jelas bahwa keselamatan yang kita dapatkan adalah karena iman, sama sekali bukan usaha kita dan bukan karena perbuatan kita. Ada rancangan yang Tuhan siapkan bagi kita untuk dikerjakan di dunia ini. Maka, sebagai orang-orang yang diselamatkan secara gratis – tidak berupaya apapun, respon kita adalah dengan menyaksikan Kristus dalam kehidupan kita, dengan cara berbagi kebaikan pada yang membutuhkan, hidup seturut dengan perintah dan kehendak-Nya, serta senantiasa memahami kehendak-Nya.
Lalu iman tersebut apakah berasal dari Tuhan, atau manusia sendiri yang mampu beriman? Bagaimana hanya iman kepada Yesus yang dapat menyelamatkan, apakah di luar Kekristenan tidak ada keselamatan? Nantikan pos berikutnya mengenai “Sola Fide”. God Bless You~

