
TRUTH
“When the Bible speaks, God speaks”
– John Calvin
Pernahkah kamu bertanya-tanya “Mengapa Alkitab dijadikan sebagai sumber otoritas (kebenaran) dari Kekristenan? Bukankah masih banyak buku-buku teologi, atau aturan moral/tradisi yang tidak kalah baiknya dengan Alkitab?”
Pemikiran itu ada benarnya kok, buktinya Gereja Katolik memiliki sumber otoritas yang bukan hanya Alkitab. Ada 3 sumber otoritas bagi Gereja Katolik: Magisterium (Kewenangan Gereja dalam hal pengajaran – Paus, Dewan, Teolog), Alkitab, dan Tradisi Gereja yang diwariskan turun-temurun. Hal ini berbeda sepenuhnya dengan Protestanisme. Para Reformator (John Calvin, Martin Luther, dan banyak lagi) menekankan doktrin Sola Scriptura (hanya oleh Kitab Suci/Alkitab). Kira-kira kalo digambarin kaya meja dengan tiga kaki dan meja dengan satu kaki nih, Guys. Kira-kira kenapa ya? Kita mau balik lihat sejarah Kekristenan nih… Jangan ngantuk atau di-skip ya.
Jadi gini, prinsip Sola Scriptura berusaha mendobrak tradisi hirarki Gereja Katolik yang sudah korup. Gereja menempatkan dirinya ‘lebih tinggi’ daripada Firman Tuhan, terbukti dengan Gereja Katolik yang mempercayai otoritas dan tradisinya yang tidak pernah salah otoritas grejawi diwakilkan oleh Paus, para dewan, dan para teolog yang menjadi arah Gereja Katolik bergerak. Makanya, kewenangan tersebut sempat disalahgunakan yang paling terkenal ya penjualan surat indulgensia (surat penghapusan dosa). Selain itu, Gereja Katolik tidak memberikan otoritas kepada siapapun untuk menafsirkan Alkitab di luar tradisi yang ada, artinya orang awam tidak boleh sembarangan menafsirkan dan mengajarkan Alkitab – yang diperbolehkan adalah Paus, para imam dan teolog melalui konsili gerejawi. Para Reformator dengan tegas menolak konsep ini, jelas mereka lebih meninggikan tradisi gereja melibihi Alkitab. Bahkan, Luther dengan tegas menyatakan ada kemungkinan bagi Paus dan konsili gerejawi melakukan kesalahan.
Ternyata gak sampai situ aja Guys, Gereja Katolik mengakui kitab-kitab Apokrifa (kitab-kitab di luar Perjanjian Lama tetapi juga berbahasa Ibrani) sebagai salah satu bacaan berguna namun tidak dapat dijadikan bahan ajaran. Penegasan Sola Scriptura membuat para Reformator menyingkirkan seluruh kitab diluar kanon yang disepakati yaitu 66 kitab dalam Alkitab (39 PL & 27 PB). Makanya, saat ini kalau dilihat-lihat, Alkitab orang Protestan dan orang Katolik berbeda. Tapi benarkah Alkitab dapat dijadikan satu-satunya sumber otoritas iman Kristen?
The Scriptures, although they also were written by men, are not of men nor from men, but from God.
– Mathin Luther
Alkitab memang ditulis oleh manusia dan ditujukan untuk dibaca oleh manusia, tetapi isinya berasal dari Allah. Otoritas Alkitab berakar dan didasarkan pada fakta bahwa Alkitab diberikan Allah melalui inspirasi kepada para penulisnya (2 Tim. 3:16). Inspirasi artinya Allah memampukan para penulis manusia dari Alkitab untuk menuliskan semua perkataan di bawah pengawasan Roh Kudus sendiri. Jadi Guys, sisi kemanusiawian dari para penulis Alkitab diakui aktif pada saat bersamaan ketika Allah menuntun dalam proses inspirasi itu. Memang, metode tentang inspirasi Ilahi ini tidak ditulis dengan jelas dalam Alkitab, tapi seringkali kita membaca dalam Alkitab (khususnya PL) Allah seringkali memerintahkan para nabi untuk menuliskan Firman-Nya bagi Israel dalam bentuk kitab-kitab, bukan?
Otoritas Alkitab tidak tergantung pada bukti-bukti kehebatan dan kesempurnaannya, tetapi oleh karena iman yang Roh Kudus sudah kerjakan dalam hidup kita sebagai orang-orang percaya sehingga mereka mempercayai kebenaran Alkitab dan menerima otoritas tersebut. Sola Scriptura adalah prinsip yang menegaskan bahwa Alkitab, dan hanya Alkitab saja, yang menjadi sumber untuk semua pengajaran dan gaya hidup kita. Iman dan tindakan kita selalu didasarkan pada Alkitab. Lalu, bagaimana kita bisa memahami Alkitab dengan baik sebagai sumber otoritas?
Gerakan Reformasi juga menetapkan suatu prinsip penting dalam penafsiran yaitu “Scripture is to interpret itself” (Sacra Scriptura sui interpres). Artinya, kita menafsirkan Alkitab dengan Alkitab dan kita tidak mempertentangkan satu bagian dengan bagian Alkitab lainnya. Apa yang tidak jelas di suatu bagian dapat diklarifikasi dan diafirmasi oleh bagian yang lain. Di balik prinsip ini, ada keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang bersifat koheren (terhubung) dan konsisten pada dirinya sendiri, layaknya Allah yang tidak mungkin berkontradiksi dengan diri-Nya sendiri. Memang betul bahwa Alkitab dituliskan oleh manusia-manusia yang berbeda dan hidup pada zaman yang berbeda pula. Tetapi kita juga menyadari bahwa inspirasi dari Allah adalah sumber bagi para penulis, sehingga jelas ada kesatuan dan koherensi. Allah dalam kedaulatan-Nya menuntun mereka dan situasi mereka, bahkan secara langsung mempengaruhi dan mengajar mereka (2Ptr. 1:21), maka akibatnya kita melihat suatu kesatuan pikiran di balik semua itu. Oleh sebab itu, untuk memahami maksud Allah dalam Alkitab, kita tidak bisa memperhatikan “bits” dan “pieces” saja (membaca setengah-setengah), tetapi kita harus melihat Alkitab secara keseluruhan. Inilah tujuan dari GreaceDiscovery lahir untuk membantu Youthers menemukan (discovers) berbagai pesan tersembunyi dalam Alkitab mengenai Anugerah Allah.
God Bless You
Sumber:
– Yohanes Adrie Hartopo, DOKTRIN SOLA SCRIPTURA (https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/77/85)
– Stephen Tong, Reformasi & Teologi Reformed (Jakarta: LRII, 1991).
– Martin Luther, That Doctrines of Men Are to Be Rejected in What Luther says: An Anthology (ed. Ewald M. Plass; St. Louis: Concordia, 1959).
– Kevin J. Vanhoozer, Is There A Meaning in the Text? The Bible, the Reader, and the Morality of Literary Knowledge (Grand Rapids: Zondervan, 1998).
